Praktisi Senior Metrologi Berbagi Cerita Karier dan Nilai Pengabdian Dalam Seminar HMMI 2025

Sumedang, 21 November 2025 – Akademi Metrologi dan Instrumentasi (Akmet) kembali menyelenggarakan kegiatan ilmiah melalui Seminar Himpunan Mahasiswa Metrologi dan Instrumentasi (HMMI) dengan tema “Dari Pengalaman Menuju Inspirasi: Berbagi Cerita Karir dan Makna Pengabdian dari Praktisi Senior Metrologi.” Kegiatan ini diselenggarakan pada Jumat, 21 November 2025, bertempat di Gedung B Kampus Akmet, Sumedang, Jawa Barat, dan diadakan secara hybrid.

Bapak Acara dipandu oleh MC Nessa Adinda Sari serta menghadirkan Moderator Nandang Gunawan. Dua narasumber yang merupakan alumni Akmet, yakni Bapak Atjeng, S.T., MM., dan Bapak Hari Prawoko, Dipl. Ing.,. Pada diskusi ini, Bapak Hari Prawoko menyadari pesatnya perkembangan teknologi pengukuran, termasuk penggunaan sistem wireless dan internet dalam proses kalibrasi. Menurutnya, Indonesia perlu mengadopsi teknologi telemetri agar proses pengukuran untuk alat ukur yang jumlahnya sangat besar seperti meter listrik dapat dilakukan secara jarak jauh.

“Di Prancis, petugas PLN dan metrologi tidak perlu datang ke rumah-rumah. Cukup dipantau melalui monitor. Karena itu, kita memerlukan teknologi pengukuran yang akurat tanpa harus berhadapan langsung dengan alat ukur,” jelas Bapak Hari.

Beliau menegaskan bahwa modernisasi teknologi merupakan kebutuhan mendesak agar pengukuran tetap akurat dan efisien menghadapi jumlah alat ukur yang terus meningkat.

Topik mengenai attitude menjadi perhatian utama kedua narasumber. Bapak Atjeng menekankan bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh perjalanan hidup, lingkungan, dan nilai-nilai keagamaan. 

“Untuk membangun attitude, kita harus kembali pada agama dan keyakinan. Hati itu akan terhubung dengan yang di atas,” ujar beliau.

Sementara itu, Bapak Hari menegaskan bahwa attitude merupakan aspek paling sulit diukur dibandingkan kompetensi pengetahuan maupun keterampilan. “Ada tiga hal yang paling sulit: menguji acknowledge bisa dengan ujian, skill bisa dengan uji kompetensi, tapi attitude bagaimana ngetesnya? Padahal dalam metrologi, integritas adalah fondasi utama,” jelas beliau. Ditambahkan juga bahwa pembentukan sikap tidak hanya bergantung pada pendidikan formal, tetapi lingkungan keluarga dan masyarakat.

Sesi tanya jawab menghadirkan berbagai pertanyaan kritis dari mahasiswa maupun peserta daring. Muhammad Raihan menanyakan alasan mengapa ilmu metrologi tidak seterkenal statistika, ekonomi, atau fisika. Menjawab hal ini, Hari menjelaskan bahwa masyarakat umum melakukan pengukuran sederhana yang tidak memerlukan ketelitian tinggi.

“Yang melakukan pengukuran rumit itu biasanya di laboratorium atau sektor industri, misalnya apoteker yang harus menimbang dosis hingga miligram. Sementara masyarakat hanya mengukur hal-hal sederhana seperti beras atau gula. Itulah mengapa metrologi kurang dikenal,” papar beliau.

Dalam forum Zoom, peserta menanyakan strategi peningkatan daya saing SDM. Menurut Bapak Hari, peluang SDM metrologi sangat terbuka karena kebutuhan pengukuran terus meningkat seiring tumbuhnya kesadaran mutu.

Selain itu, mahasiswa lain juga menanyakan standar teknologi yang harus diadopsi Indonesia. Bapak Atjeng menjawab bahwa metrologi berbasis fisika harus didukung oleh para ilmuwan yang mampu mengembangkan alat ukur modern.

“Teknologi seperti pengukuran jarak jauh bisa diterapkan, tetapi tetap harus selaras dengan regulasi negara. Semua inovasi harus didampingi aturan hukum. Mulai dari menimbang bahan baku hingga produk akhir, semuanya memerlukan pengukuran yang tepat. Bahkan saat dikirim ke luar kota pun tetap ditimbang lagi. Metrologi hadir di setiap sektor” tegas beliau.

Sebagai penutup, Bapak Hari memberikan pesan bahwa mutu sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh harga, melainkan oleh proses pengukuran yang konsisten di setiap tahap produksi.

“Mulai dari menimbang bahan baku hingga produk akhir, semuanya memerlukan pengukuran yang tepat. Bahkan saat dikirim ke luar kota pun tetap ditimbang lagi. Metrologi hadir di setiap sektor,” ujarnya.

Seminar ini memberikan wawasan luas mengenai perkembangan metrologi serta pentingnya integritas dan sikap profesional dalam dunia pengukuran. Melalui berbagi pengalaman dari para praktisi senior, mahasiswa diharapkan memperoleh inspirasi sekaligus pemahaman komprehensif mengenai karir dan peran strategis metrologi dalam menjaga kualitas hidup masyarakat. Acara ditutup dengan harapan agar generasi muda metrologi mampu menjadi SDM unggul yang siap bersaing dalam era teknologi pengukuran yang terus berkembang.